Lutim.RedMOl.id — Proyek rehabilitasi SD Muhammadiyah Darul Arqam di Desa Tampinna menuai kecaman. Pekerjaan rehabilitasi sekolah tersebut diduga dilakukan tanpa papan proyek dan meninggalkan sejumlah pekerjaan krusial dalam kondisi tak tuntas.
Kepala sekolah setempat, Wahid Mustafa, secara terbuka mengungkapkan berbagai kejanggalan. Ia mengaku tidak pernah melihat papan informasi proyek sejak pekerjaan dimulai. Tak hanya itu, sebagian plafon yang dibongkar tidak dipasang kembali, sementara kabel instalasi listrik justru dibeli menggunakan dana sekolah.
“Kabel instalasi kami beli sendiri. Plafon ada yang dibongkar tapi tidak dipasang kembali, berulang kali saya minta papan proyeknya tapi tak pernah dipasang hingga ditinggalkan kerja," ungkapnya, Minggu (4/01/2026).
Ironisnya, hingga masa belajar mengajar dimulai, pihak pelaksana disebut tidak melakukan pembersihan sisa material dan debu bangunan, kursi dan meja belajar siswa juga masih nampak tertumpuk di dua ruangan kelas termasuk sisa material di teras sekolah juga masih berserakan belum dibersihkan Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan keselamatan siswa di ruang kelas.
Kepala sekolah juga mengaku tidak mengetahui detail teknis maupun besaran anggaran proyek rehabilitasi tersebut. Pihak sekolah hanya berperan sebagai penerima manfaat, sementara pelaksanaan sepenuhnya berada di tangan pengelola proyek.
Sejumlah pihak menilai ketiadaan papan proyek dan tidak tuntasnya pekerjaan mengindikasikan lemahnya transparansi serta pengawasan. Proyek rehabilitasi sekolah yang seharusnya meningkatkan kualitas sarana pendidikan justru meninggalkan persoalan baru di lingkungan belajar.
"Saya dengar tukangnya pindah lagi kerja di Lambaru, Malili, sekolah juga belum dibereskan," imbuh Kepala Sekolah.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada klarifikasi dari pihak pelaksana maupun instansi terkait terkait sumber anggaran, lingkup pekerjaan, dan pertanggungjawaban atas pekerjaan yang belum diselesaikan.
